Matinya Kepakaran: Problematika Kaderisasi yang Cenderung Disepelekan 

elah menjadi suatu konsensus bahwasannya kaderisasi merupakan jantung sebuah organisasi. Ketika jantung mengalami masalah, maka organ gerak tidak akan berfungsi secara optimal. Sebagai organisasi tentunya memiliki tugas dalam mempersiapkan sumber daya manusianya (kader) untuk dapat melanjutkan estafet kepengurusan dengan baik. Ada empat aspek pokok yang perlu dikembangkan dalam diri seorang kader. Aspek tersebut ialah spiritual, emosional, mental dan intelektual.

Dalam narasi kali ini, marilah kita sejenak memusatkan perhatian pada aspek intelektual. Salah satu bentuk peningkatan daya intelektual kader yang umum kita jumpai ialah pelatihan. Baik itu pelatihan formal, non formal serta informal berupa kajian dan semacamnya. Output dari hal itu menimbulkan beberapa pertanyaan. Berapa persentase kader yang dapat menjadi role model dalam satu disiplin ilmu? Apakah seorang kader mampu mengembangkan identitas keilmuan berbasis dengan jurusannya di kampus melalui organisasi?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini seakan menjadi tantangan tersendiri untuk direspon. Apa yang perlu diwariskan kepada generasi selanjutnya bukan hanya posisi struktur, namun juga porsi kultur. Kader patut diarahkan untuk menjadi seorang pembelajar.

Penulis membagi dua macam model pembelajar. Pertama, ialah kader yang senang dalam mempelajari banyak disiplin ilmu atau kita sebut sebagai seorang generalis. Kedua, ialah kader yang memfokuskan dalam satu disiplin ilmu saja, kita sebut sebagai seorang spesialis. Poin pokoknya bukan untuk memperdebatkan mana yang lebih baik. Namun, bagaimana mensintesis sisi kelebihan dari kedua model ini untuk diinternalisasikan dalam diri seorang kader.

Temuan yang penulis dapatkan dalam sistem kaderisasi organisasi saya, cenderung dalam mengarahkan kader menjadi seorang yang generalis. Tentunya ini tidak optimal jika kurang memperhatikan pendampingan/follow up aspek spesialisnya. Kader dituntut untuk menguasai seluruh materi namun kurang mempertimbangkan minat dalam dirinya. Alhasil seorang kader dapat merasa jenuh. Sedangkan, yang perlu kita ciptakan adalah ekosistem pembelajaran yang baik dan menyenangkan.

Salah satu alternatif solusi yaitu konsep yang dibuat oleh David Guest yakni T Shaped. Seorang kader perlu memahami banyak hal meskipun tak ahli. Namun, di satu sisi memiliki satu dua hal yang dia kuasai. Ketika hal ini terus dibiasakan maka akan mencapai titik generalizing specialist.

Disinilah peran pengurus sangat penting untuk mendata minat kader, lalu melakukan follow up dengan memfasilitasi ruang dan ekosistem keilmuan. Hal ini yang akan membentuk suatu disiplin dan berujung pada pembentukan identitas kader.

Sedangkan, persoalan relevansi ilmu kuliah kader dapat diatensi dengan melakukan kajian fakultatif di organisasi. Hal ini diharapkan agar tak terjadi dikotomi antara kampus dan organisasi. Namun, persoalan ini akan lebih dibahas pada narasi selanjutnya.

Ditulis oleh

M. Lutfi Asfat